Panen Kopi Gayo Dihantui Anjloknya Harga

Panen raya yang seharusnya disambut suka cita oleh petani kopi malah berubah menjadi kekhawatiran akan mengalami kerugian. Hal ini dialami oleh petani kopi gayo di Aceh. Panen belum tiba, harga kopi sudah turun drastis. Untuk itu, otoritas pengelola perdagangan dan industri kopi diharap turun tangan.

kopi gayo 1

Harga kopi di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah terus merosot sejak dua pekan terakhir, walapun di daerah penghasil kopi tersebut belum memasuki panen raya.

Seorang petani dari Bener Meriah, Suman ketika dikonfirmasi mengatakan, harga kopi Gayo menurun perlahan-lahan dalam dua pekan terakhir. Sekarang harga kopi merah (gelondongan) Rp 5.000/bambu, padahal sebelumnya bertahan pada harga Rp 7.500/bambu.

“Harga kopi merah ini pernah mencapai Rp 11.000/bambu, tetapi kini harganya merosot tajam,” kata Suman kecewa.

kopi gayo 5

Sementara harga gabah kopi yang sebelumnya Rp 17.000 hingga bertahan Rp 21.000, kini hanya Rp 15.000/bambu. Gabah kopi ini. Katanya. juga pernah mencapai harga Rp 32.000/bambu. Sedangkan harga biji kopi kering (beras kopi) juga turun, saat ini Rp 30.000/kg dari sebelumnya Rp 42.000/kg.

“Kami berharap pemerintah daerah mencari solusi atas merosotnya harga kopi. Kami khawatir harga makin merosot, karena dua bulan ke depan akan panen raya,” kata Suman.

Dilansir dari rasakopi.com, untuk mengatasi fluktuasi harga kopi yang merugikan petani. pengusaha perkebunan kopi Gayo telah mengembangkan jenis kopi specialty dengan grade utama yang lebih tinggi dan terjaga harganya. Seperti yang dilakukan oleh Toga Coffee sebuah gerai produsen kopi asal Aceh Tengah yang telah memiliki banyak outlet di Jakarta. Toga Coffee mengembangkan pengolahan kopi dengan cara natural yang hasil produksinya dicari oleh berbagai kedai kopi nasional dan bahkan dunia. Harga jualnya pun bisa mencapai Rp 450.000 per kilogram dalam bentuk green bean.

toga 1

“Dengan pengolahan secara natural dan klasik yang tepat kami bisa menghasilkan kopi grade 1 dengan harga jual yang bagus. Kami tidak terlalu terpengaruh fluktuasi harga,” ujar Hadi Sutrisno pemilik perkebunan kopi di Gayo sekaligus founder Toga Coffee. Menurut Hadi Sutrisno yang menjadi kendala bagi petani mereka membutuhkan uang cepat, sementara pengolahan klasik dan natural memakan waktu cukup lama. [der]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s