Mantera Menanam Kopi Gayo

Bismillah
Siti Kewe
kunikahen ko orom kuyu
wih  kin  walimu
tanoh kin  saksimu
Lo kin saksi kalammu”

(Bismillah
Siti Kawa
Kunikahkan dikau  dengan angin
Air  walimu
Tanah saksimu
Matahari saksi kalam mu)

Teks  klasik itu  diucapkan sebagai “mantra” oleh para petani kopi tatkala mulai menam kopi. Teks tersebut disampaikan kembali oleh Mustafarun,   petani kopi Desa Gele Wih Ilang, Kabupaten Bener Meriah. “Dulu orang Gayo membacakan itu saat menanam kopi,” kata Mustafa.

Dalam teks lain, orang Gayo menjadikan kopi sebagai  ungkapan pepatah,  yang berbunyi “Muriti-riti lagu kupi, murentang-rentang lagu gantang”. Artinya,  bersusun rapi seperti batang kopi, berbanjar seperti baris  kentang. Ungkapan lain berbunyi “Kulni buet gere be kupi (begini besar kerja kok tanpa kopi).”

Ungkapan ini kedengarannya sebuah canda dan sindiran  kepada tuan rumah untuk segera menyediakan kudapan dan tentu minuman kopi  dalam satu pekerjaan besar yang dilakukan bersama-sama (gotong royong).

Image result for mantra menanam kopi gayo

Sumber: bercocok-tanam-kopi.blogspot.com

“Mantra kopi” dan   “pepatah kopi” tersebut  memperlihatkan bahwa kopi bukan sekadar minuman, melainkan  ekspresi kebudayaan yang dihayati sangat intens. Bagi orang Gayo kopi telah menjadi nafas kehidupannya. Dari biji kopi itu, orang Gayo menyambung hidup, menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi. Dari hasil kebun kopi orang Gayo kawin dan naik haji. Kopi adalah zamrud yang dirawat dengan segenap jiwa. Penyair  didong grup Sidang Temas melantunkan cara bertanam kopi dalam bentuk puisi didong.

Lantas,  bagaimana  muasal kopi di Gayo? Tak ada catatan pasti. Tapi masyarakat Gayo klasik menyebut kopi dengan istilah  “kewe” atau “kawa” seperti yang terekam dalam “mantra kopi” tadi.  Daun kawa diminum setelah diseduh dengan air panas. Batangnya digunakan sebagai pagar.

Penyair didong Ibrahim Kadir seperti dilansir dari aceh.tribunnews.com, masih ingat ketika orang tuanya merebus daun “kawa” untuk diminum. “Saya ingat, karena orangtua saya melakukannya seperti itu,” kata Ibrahim Kadir. Ia menyebutkan “kawa” tumbuh liar, batangnya tinggi dengan ranting yang menjalar ke mana-mana. Buahnya seukuran kelereng, berwarna merah menyala.

“Boleh jadi masa itu orang Gayo tidak menyadari bahwa itu adalah tanaman penting dan  membiarkannya sebagai tanaman liar, kecuali daunnya yang diseduh jadi teh,” kata Ibrahim kadir lagi.

Istilah “kawa” ini juga disinggung  oleh C Snouck Hurgronje, penulis Belanda  dalam bukunya “Het Gajoland en Zijne Bewoners” yang terbit pertama kali di Batavia pada 1903. Buku itu  kemudian diterbitkan ulang dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “Gayo Masyarakat dan Kebudayaannya Awal Abad ke-20” oleh Hatta Hasan Aman Asnah, PN Balai Pustaka, 1996. Ini artinya  bahwa kopi telah  tumbuh di dataran tinggi Gayo sebelum Belanda menjejakkan kaki kawasan itu pada 1904.

Penyair Ibrahim Kadir sependapat dengan anggapan ini, bahwa kopi atau “kawa” sudah lebih dulu ada sebelum Belanda datang ke daerah itu. Sonuck Hurgronje merasa heran karena di tanah Gayo dijumpai batang kopi. “Dari mana asalnya, seorang pun tidak ada yang tahu. Sepanjang ingatan, tidak seorangpun mengaku pernah menanam kopi, dan menganggap bahwa tanaman ini tanaman liar,” tulis Snouck Hurgronje.

Masih menurut Snouck,  masa itu orang  mengambil batang atau cabang tanaman kopi untuk pagar (peger) kebun. Buah kopi yang masak dibiarkan saja dimakan burung, kemudian burung itulah yang menyebarkan kopi. “Orang Gayo sendiri tidak tahu bahwa kopi itu bisa diolah menjadi minuman segar. Yang mereka tahu hanya memanggang daunnya yang kemudian dijadikan teh,” kata Snouck Hurgronje.

Boleh jadi budidaya kopi secara besar-besaran baru dilakukan  oleh Belanda,  segera setelah selesainya pembangunan jalan utama Takengon-Bireuen pada 1916 (mulai dibangun 1903), sehingga bisa dilintasi mobil. Ketika itu kolonialis Belanda langsung membuka tiga perkebunan besar, yaitu perkebunan kopi seluas 20.000 hektare, perkebunan teh dan perkebunan pinus. Belanda juga membangun kilang pengolahan kopi  yang terletak di Bandar Lampahan, sekarang masuk wilayah Kabupaten Bener Meriah.

Sedangkan areal perkebunan tersebar pada radius 40 Km dari kilang. Perkebunan kopi dan pinus mulai berproduksi pada tahun 1930-an. Keterangan ini diutarakan oleh cendikiawan Gayo, Prof Alyasa’ Abubakar dalam pengantar buku “Catatan Pahala, Muhammad Ali Wari”, Bandar Publishing,  2010.

Belanda membangun areal perkebunan teh seluas 15 ribu hektare, terletak Ponok Sayur, Ponok Baru, dan  Redlong,  Ibukota Kabupaten Bener Meriah.  Mulai berproduksi awal 1940-an. Teh “Redlong”  sangat terkenal di Eropa sebelum Perang Dunia II karena rasanya yang istimewa.

Masyarakat Gayo yang semula berkutat dengan dunia pertanian sawah, nelayan danau, lambat laun beralih ke perkebunan kopi. Tapi usaha perkebunan kopi sempat telantar menyusul masuknya Jepang pada 1942. Usaha perkebunan kopi rakyat di Gayo baru  berkembang setelah zaman kemerdekaan, terutama setelah selesainya konflik G30S PKI dan peristiwa DI/TII tahun 1960-an. Sejak itu, sampai sekarang masyarakat Gayo  mulai mengandalkan kopi sebagai komoditas utama. Lahan perkebunan berkembang signifikan, yang  hingga kini mencapai 80 ribu hektare lebih.

Masyarakat Gayo yang bermukim di tiga kabupaten, Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Bener Meriah telah menjadikan kopi sebagai komoditi utama dan menjadi penghasil utama kopi di Indonesia, terutama jenis arabika. Luas areal kopi di Aceh Tengah 44 ribu hektare, Bener Meriah 39 ribu hektare,  dan sebagian lagi di Gayo Lues 7.800 hektar. Dari luas tersebut, sebanyak 85 persen kopi jenis arabika dan 15 persen robusta.  Terdapat 33 ribu kepala keluarga yang menggantungkan hidup dari kopi di Aceh Tengah, 29 ribu kepala keluarga di Bener Meriah, dan  3.900 kepala keluarga di Gayo Lues. Selamat menikmati bercangkir-cangkir kopi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s