Tradisi Wiwit Kopi Masyarakat Kudus

Untuk menjaga keseimbangan dan hasil panen yang melimpah, warga desa Colo kecamatan Bae Kudus Jawa Tengah melaksanakan tradisi yang dinamakan “Wiwit Kopi”. Ritual ini merupakan ekspresi rasa terima kasih pada Tuhan atas rezeki melalui buah kopi yang berlimpah tahun sepanjang tahun.

wiwit1

Wiwit kopi diawali dengan tarian yang diperagakan oleh anak-anak desa Colo kecamatan Dawe Jawa Tengah. Ratusan warga, Selasa 20 September 2016  sore, berkumpul di areal kebun kopi yang berada di lereng pegunungan Muria. Mereka duduk secara lesehan di antara pohon kopi dan tebing pegunungan Muria yang membentang.

Para masyarakat yang hadir ini sedianya akan melaksanakan ritual tahunan tradisi wiwit kopi yang selalu dilaksanakan sesaat menjelang panen raya kopi.

wiwit4

Warga datang berbondong-bondong ke areal lahan perkebunan milik Perhutani yang mereka kelola. Warga datang dengan membawa bungkusan berisi ayam lingkung bakar khas Kudus dan berbagai lauk-pauk tradisional seperti tempe dan tahu goreng.

Setelah lauk dan pauk tersebut selesai di doakan, mereka langsung menyantap nasi berserta lauk pauk tersebut secara bersama-sama.

wiwit3

Menurut Bupati Kudus Musthofa, yang turut serta menikmati ritual kopi khas Colo ini, dia berharap tradisi seperti ini bisa terus dijaga dan bisa menjadi daya tarik wisatawan untuk datang langsung ke desa Colo. Musthofa berharap nantinya para wisatawan bisa menikmati kopi khas Colo yang langsung dipetik dari kebunnya.

wiwit6

Saat ini di lereng gunung Muria terdapat lahan milik Perhutani yang dikelola masyarakat dengan menanam kopi seluas sembilan puluh hektar lebih. Untuk perhektar lahan yang dikelola bisa menghasilkan satu ton kopi basah jika kondisi cuaca sedang bagus.

Sementara itu menurut salah seorang warga desa Colo, Pranyoto Shofil Fuad, ritual yang sudah dilakukan sejak zaman Belanda itu berupa doa dan makan bersama. Tradisi ini menurut Pranyoto merupakan wujud terimakasih masyarakat kepada Tuhan atas limpahan hasil panen kopi pada tahun ini. Selain itu mereka juga berdoa dan berharap pada panen tahun berikutnya akan lebih baik lagi hasilnya.

wiwit5

Selain berdoa dan makan bersama, masyarakat Solo juga melepaskan ratusan burung. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan alam. Karena jenis burung yang dilepas adalah jenis pemangsa ulat yang biasanya menjadi hama kopi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s